Tuanku Tambusai lahir
di Dalu-dalu, nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau. Dalu-dalu merupakan salah satu
desa pedagang Minangkabau yang didirikan di tepi sungai Sosah, anak sungai Rokan. Tuanku Tambusai memiliki nama kecil Muhammad Saleh, yang
setelah pulang haji, dipanggilkan orang Tuanku Haji Muhammad Saleh.[1]
Tuanku Tambusai
merupakan anak dari pasangan perantau Minang, Tuanku Imam Maulana Kali dan Munah. Ayahnya berasal dari
nagari Rambah dan merupakan seorang guru agama Islam. Oleh Raja Tambusai
ayahnya diangkat menjadi imam dan kemudian menikah dengan perempuan setempat.
Ibunya berasal dari nagari Tambusai yang bersuku Kandang Kopuh. Sesuai dengan
tradisi Minang yang matrilineal, suku ini diturunkannya kepada Tuanku Tambusai.[2]
Sewaktu kecil Muhammad
Saleh telah diajarkan ayahnya ilmu bela diri, termasuk ketangkasan menunggang
kuda, dan tata cara bernegara.[3]
Gerakan Paderi
Untuk memperdalam ilmu
agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Disana ia banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang
berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan gelar fakih. Ajaran Paderi begitu
memikat dirinya, sehingga ajaran ini disebarkan pula di tanah kelahirannya.
Disini ajarannya dengan cepat diterima luas oleh masyarakat, sehingga ia banyak
mendapatkan pengikut. Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian
Islam, mengantarkannya untuk berperang mengislamkan masyarakat di tanah Batak yang masih banyak
menganut pelbegu.[4]
Melawan Belanda
Perjuangannya dimulai
di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu. Kemudian
ia melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823. Tahun 1824, ia memimpin
pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing,
dan Natal untuk melawan Belanda. Dia sempat menunaikan ibadah haji dan juga diminta oleh Tuanku Imam Bonjol untuk mempelajari perkembangan Islam di Tanah Arab.[5]
Dalam kurun waktu 15
tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda, sehingga sering
meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort
Amerongen dapat dihancurkan. Bonjol yang telah jatuh ke tangan Belanda dapat
direbut kembali walaupun tidak bertahan lama. Tuanku Tambusai tidak saja
menghadapi Belanda, tetapi juga sekaligus pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartoredjo, yang
berpihak kepada Belanda. Oleh Belanda ia digelari “De Padrische Tijger van
Rokan” (Harimau Paderi dari Rokan) karena amat sulit dikalahkan, tidak
pernah menyerah, dan tidak mau berdamai dengan Belanda. Keteguhan sikapnya
diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elout untuk berdamai. Pada tanggal
28 Desember 1838, benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Lewat pintu
rahasia, ia meloloskan diri dari kepungan Belanda dan sekutu-sekutunya. Ia
mengungsi dan wafat di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia pada tanggal 12 November 1882.
Karena jasa-jasanya
menentang penjajahan Hindia-Belanda, pada tahun 1995 pemerintah mengangkatnya sebagai pahlawan
nasional.[6]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar